Hanyalah isi corat coret pikiran seorang mahasiswa yang tak pintar berkata-kata
Senin, 02 Oktober 2017
Para Penyebar Hoax
“Yaa, terserahlah ce, aku kan cuma nyebar. Masalah benar atau tidak itu merupakan tanggung jawab yang bikin postingan.”
Yap, kalimat inilah yang ku dapat sebagai balasan ketika sedang mengingatkan seorang teman kalau postingannya yang di-share di salah satu media sosial kemungkinan besar merupakan hoax.
Jawaban ini membuatku tertegun.
Bagaimana bisa seseorang menjawab demikian? Pikirku.
Aku sadar kalau sah-sah saja kalau ia ingin berpendapat, dan menuangkan pendapatnya dalam bentuk membagikan tulisan yang dinilainya dapat mewakili pendapatnya. Apalagi jika ada unsur emosi yang terlibat, entah karena perasaan tidak senang dengan kebijakan yang ada ataupun sebab lainnya.
Tapi perlu diingat bahwa SALAH kalau berfikir ‘dosa’ itu hanya pada orang yang membuat hoax. Dengan membagikan (men-share) sebuah postingan, bukankah sama saja dengan orang tersebut mengamini apa yang tertulis di postingan tersebut sekaligus meyakini kalau postingan itu benar, dan juga penting untuk diketahui orang lain.
Iya kalau postingan itu memang benar, kalau salah? Tidakkah itu sama saja dengan menyesatkan orang lain?
“Lha, kan saya cuma membagikan. Saya pun berarti disesatkan oleh si pembuat postingan dong...”
Ya bener sih, kalau dipikir berarti kita juga korban hoax. Tapi apa itu berarti kita dibenarkan untuk menyebarkan hoax? TIDAK. Tidak ada satu alasanpun yang bisa membenarkan kita menyebarkan hoax. Ibarat dendam karena ditipu, apa lantas balas menipu itu dibenarkan? Tentu tidak. Yang didapat hanyalah kepuasan emosional semu yang sebenarnya sia-sia
“Sekedar share kan buat jaga-jaga aja.”
Kalimat ini juga kadang sering kali jadi kalimat pembelaan buat orang-orang yang males ngecek kebenaran sebuah pesan, terus emosian langsung deh di share.
Info yang salah bisa mengarah ke khawatiran yang tidak perlu.
Seperti sebelumnya, pernah ada pesan di aplikasi chatting yang mengklaim berasal dari NASA kalau akan ada badai matahari (atau semacamnya) yang mempengaruhi perangkat elektronik maka seluruh perangkat elektronik perlu dimatikan. Kalau dipikir sepintas, mungkin tidak ada bahayanya pesan ini. Toh cuma mematikan perangkat elektronik selama beberapa jam, bukan masalah besar. Tapi sadarkah kita bagi beberapa orang bisa menanggapi ini dengan rasa cemas yang berlebihan, yang mungkin saja tetap merasa tidak aman meskipun seluruh perangkat elektronik yang dimilikinya sudah dimatikan, terus ujung-ujungnya ga bisa tidur hanya gara-gara berita itu, yang ternyata tidak benar. Apa ngga kasian?
Tindakan jaga-jaga = tindakan pencegahan, tapi apakah itu berarti tanpa mengecek keberannya?
Anda tahu jawabannya :)
Menurut saya pribadi, ya intinya bukan di orang lain, tapi di diri kita sendiri. Urusan orang lain mau membuat berita bohong atau tidak, tapi tugas kita yaitu memastikan kebenaran sebuah berita sebelum menyebarkannya kepada orang lain. Karena kita bertanggung jawab dengan apa yang kita bagikan di media sosial, karena dengan menyebarkan hoax berarti kita tak berbeda dengan pembuat hoax itu sendiri.
02.10.2017
FA
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Anggur Merah untuk Makan Malam -part 01-
Genre : romance, drama, psycological . Rate : adult Warning - materi cerpen untuk dewasa! - bagian percakapan dwibahasa . Part one-- ...
-
“Yaa, terserahlah ce, aku kan cuma nyebar. Masalah benar atau tidak itu merupakan tanggung jawab yang bikin postingan.” Yap, kalimat inilah...
-
Genre : romance, drama, psycological . Rate : adult Warning - materi cerpen untuk dewasa! - bagian percakapan dwibahasa . Part one-- ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar